Featured Posts

Cash-Out Refinance For many, their homes are just not dwellings that protect them against rain, sun, and wind. But they are piggy banks, which can be used to raise some urgent money, even if the home still lays collateral...

Read more

Palm’s latest model, new handheld in a long time. Palm’s latest model, the TX, is its most ambitious new handheld in a long time. This isn’t because it’s full of cutting-edge features. It certainly is not. However, very few mid-range models have...

Read more

An image in a post Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam. Etiam...

Read more

Home Purchase Loan We all dream to own a home, at some point in our lives. In fact, this is a major driving force or one of the goals we have ahead while working day and night and saving a good share of the earnings every...

Read more

Tampilkan postingan dengan label akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akhlak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 September 2010

Allah Mengilhamkan Jalan Fujur dan Taqwa

Fir’aun itu sukses dalam pembangunan fisik tetapi dia terkutuk dan hancur karena kesombongannya serta ditenggelamkan di lautan, demikian pula Qorun sukses secara ekonomi tetapi dia binasa karena kesombongan dan kekikirannya hingga dia ditenggelamkan ke dalam bumi beserta harta bendanya. Qur’an dan sunah rasul menuntun manusia untuk meraih sukses yang hakiki tanpa mengandung mudharat sedikitpun bahkan diliputi rahmat dan keberkahan. Urusan terpenting kita adalah menjadi manusia yang menjalani kehidupan berpedoman kepada Qur’an dan sunah, dan itu semua dapat hanya dengan bekal keilmuan dan kefahaman. Anak-anak pinggiranpun memiliki haq untuk menempuh jalan ini.



“dan (ingatlah)ketika tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) : ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ mereka menjawab:’benar (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi’. (kami lakukan yang demikian itu) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)’. (QS.7:172).

“...Kehidupan dunia telah telah menipu mereka. Dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang-orang kafir.”(QS.8:130)

“(Allah bersumpah dengan ciptaannya)dan demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan kedurhakaan dan jalan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (QS.91:7-10)

Sebelum roh ditiupkan kedalam setiap tubuh manusia maka Allah telah membekali keilmuan untuk mengenal tuhannya. Setelah jiwa itu menyaksikan bahwa Allah adalah satu-satunya tuhan maka kemudian jiwa ditiupkan kedalam janin ketika berusia empat bulan di dalam rahim ibu. Sehingga semua manusia dilahirkan dalam keadan suci, sebagai fitrahnya semua jiwa bertauhid menyembah Allah saja. Kemudian manusia menjalani kehidupan dunia disertai dengan hawa nafsu dan musuh besarnya yaitu syaithon yang selalu mengajak kejalan kemungkaran. Ada manusia yang tetap istiqomah dijalan yang diridloi Allah SWT dan ada pula yang mengikuti langkah syaithon menuju kepada kebinasaan abadi, mereka tertipu oleh kehidupan dunia. Allah menurunkan rahmatNya kepada semesta alam dengan menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk menuju kemuliaan dan mengutus nabiyullah Muhammad saw sebagai panutan sauri tauladan sehingga manusia tidak terjerumus kedalam kesulitan dan kesengsaraan.

Allah mengilhamkan manusia dengan dua jalan yaitu jalan fujur (rusak, sesat & durhaka) dan jalan taqwa. Manusia adalah makhluk yang lemah mudah lupa, tergesa-gesa lagi mudah putus asa dan kemudian Allah memberikan rahmat untuk mengampuni dosa dan kesalahan hamba-Nya, menunjuki jalan keluar serta memudahkan perbaikan hamba-Nya bagi yang sungguh-sungguh bertaubat bertaqwa dan bertawakal. Semua manusia memiliki kekurangan & kesalahan maka bersabar atas apa yang menimpa adalah sebaik-baik perkara, bersyukur terhadap apa yang ada adalah akhlak mulia, memaafkan kesalahan orang adalah amat dicintai disisi Allah.

Semua orang memiliki potensi untuk meraih kesuksesan dan menjadi manusia yang baik. Sukses dan baik bukanlah diukur menurut persangkaan hawa nafsu tetapi sukses dan baik itu diukur menurut kadar yang haq yaitu kitabullah dan sunah rasul. Fir’aun itu sukses dalam pembangunan fisik tetapi dia terkutuk dan hancur karena kesombongannya serta ditenggelamkan di lautan, demikian pula Qorun sukses secara ekonomi tetapi dia binasa karena kesombongan dan kekikirannya hingga dia ditenggelamkan ke dalam bumi beserta harta bendanya. Qur’an dan sunah rasul menuntun manusia untuk meraih sukses yang hakiki tanpa mengandung mudharat sedikitpun bahkan diliputi rahmat dan keberkahan. Urusan terpenting kita adalah menjadi manusia yang menjalani kehidupan berpedoman kepada Qur’an dan sunah, dan itu semua dapat terwujud hanya dengan bekal keilmuan dan kefahaman. Anak-anak pinggiranpun memiliki haq untuk menempuh jalan ini.

Allah selalu menolong hambaNya selama dia mau menolong saudaranya. Apabila membantu pendidikan anak pinggiran sehingga mereka bisa menjadi hamba Allah yang sholeh dan bermanfaat maka kita telah menolong diri kita sendiri dari kesulitan yang teramat besar. Kesesatan diawali dari kebodohan, kemudian kebodohan itu mendorong manusia untuk sombong, tidak mengenal akhlak yang mulia, berlaku mungkar dan membuat kerusakan di muka bumi serta orang yang bodoh mudah sekali tertipu oleh ajakan syaithon. Maka sesungguhnya kebodohan itu adalah musuh besar orang-orang yang beriman dan harus diperangi bersama-sama secara terorganisir. Sebagaimana Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan Allah secara teratur tertata dalam barisan rapi seakan-akan seperti bangunan yang rapi dan kokoh. Berhimpun bersama untuk memikirkan pendidikan anak pinggiran adalah salah satu kesempatan untuk berada dalam barisan perjuangan di jalan kebaikan. semoga mendatangkan keberkahan bagi kita semua, Wallahu a'lam bissawwab.
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Manusia Pilihan

Malam itu kebetulan ia pulang agak larut. Beberapa kali ia mengetuk pintu tapi tidak juga dibukakan. Akhirnya ia merebahkan tubuh di depan pintu berselimutkan udara malam. Menjelang Subuh, ia terjaga saat istrinya membuka pintu. Apakah ia kemudian memarahi sang istri yang membiarkannya semalam kedinginan?Ternyata tidak, justru ia minta maaf atas keterlambatannya.

Kecantikan istrinya, bukanlah penyebab ia tidak marah. Ia memang dikenal sebagai lelaki yang menghormati kaum Hawa. Baginya karakteristik fisik dan psikis mereka yang lemah adalah untuk dilindungi bukan untuk ditindas dan dilecehkan.

Laki-laki tampan itu lahir dalam keadaan yatim. Pada usia enam tahun, keprihatinannya semakin lengkap setelah sang ibu tercinta wafat. Kelembutan hati yang terlatih sejak belia mengantarkannya sebagai sosok yang datang sebagai pembebas kaum lemah. Ia juga berhasil membebaskan umat manusia dari paganisme seperti yang dialami masyarakat jahiliyah kuno dan andai kita benar-benar mengikuti ajarannya, niscaya juga terbebas dari budaya jahiliyah modern yang menuhankan akal dan materi.

Ia adalah seorang panglima perang yang amat disegani teman maupun lawan. Namun kedudukan tinggi tidak menjadikannya melupakan posisinya sebagai seorang ayah dan suami yang dinanti kasih sayangnya. Kecintaan terhadap buah hati juga tidak menghalanginya menegakkan keadilan.

Kalau kebetulan Anda berbeda keyakinan atau agama dengannya, Anda tidak perlu merasa cemas. Agamanya amatlah toleran sehingga Anda dapat hidup dengan aman tanpa sedikitpun teror mengancam. Adapun belakangan para pengikutnya yang bersikap lain mungkin karena kurang mengenal panutan mereka yang mulia ini.

Demikian pula bagi Anda yang belum lama memeluk agamanya, atau belum bisa secara kaffah dalam mengamalkan ajarannya. Ia tidak gegabah mengklaim Anda telah keluar dari agamanya. Karena hal tersebut adalah urusan Anda dengan Allah. Selama Anda mengikrarkan bahwa Allah sebagai satu-satuya tuhan yang berhak untuk disembah dan ia sebagai utusanNya, maka jiwa, harta, dan kehormatan Anda telah terjamin.

Anda tentu sudah dapat siapa yang sedang kita rasani dalam tulisan ini. Beliau tak lain dan tak bukan adalah Baginda Muhammad SAW. Nabi yang kebetulan bulan ini kita peringati kelahiran sekaligus mangkatnya. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya di bulan Rabiul Awwal berbagai kemasan acara kita gelar untuk memperingatinya. Pengajian, sholawatan, pembacaan maulud maupun sirahnya, dan berbagai macam acara lain. Akan tetapi dapat kita lihat pula seolah semua itu hanyalah rutinitas yang hanya begitu-begitu saja.

Ketika kita mendengar pembacaan kisah beliau, kita mungkin akan terkagum-kagum, terharu dan seolah semangat keberagamaan kita meningkat saat itu juga . Akan tetapi seringnya hal itu tidak berlangsung lama, Orang Jawa mengistilahkannya “bungentuwo “, mlebu kuping tengen metu kuping kiwa (masuk telinga kanan langsung keluar lewat telinga kiri )tanpa mampir dan membekas dihati.

Sering pula kita mendengar saudara kita atau bahkan kita sendiri ketika dianjurkan untuk mencontoh akhlak beliau yang mulia kita berdalih, “Lho, saya kan bukan nabi , manusia pilihan yang maksum terjaga dari dosa.” Dan kemudian ketika dialihkan kepada keteladanan para sahabat masih ada saja jawaban, “Mereka kan pernah hidup pada masa Nabi, ibarat air gunung yang jernih karena masih dekat dengan mata air, sedangkan kita sudah begitu jauh dari mata air, sehingga wajar kalau keruh.”

Begitulah kita ada saja dalih yang kita sampaikan. Kita sering lupa bahwa nabi yang terjaga dari dosa begitu bersemangat dalam menegakkan malam-malamnya , mengisi dengan ibadah hingga kakinya bengkak. Penderitaan kita sangatlah berat bagi beliau, hingga beliau berderai airmata karenanya. Beliau adalah manusia yang membutuhkan tidur, namun ketika bangun tidur tampaklah bekas tikar kasar pada kulitnya. Beliau terbiasa tidak makan selama tiga hari. Beliau mengganjal perut dengan batu untuk menghilangkan lapar. Jadi beliau memanglah manusia yang diciptakan untuk dicontoh bukan sekedar dongeng ataupun kebanggaan umat. Kalaupun kita merasa bagai air yang sudah amat keruh karena begitu jauh jarak kita dengan Sang mata air, tidakkah kita merindukan dan mengupayakan kejernihan? Billahit Taufik Wal Hidayah

sumber:harian jogja
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Etika surgawi

Di dalam bahasa Alkitab, etika surgawi disebut juga sebagai tahbisan dan itu merupakan suatu aturan etika yang berlakunya ditetapkan dan diresmikan oleh Allah. Ada yang disebut sebagai tahbisan nikah surgawi yaitu suatu etika dalam hubungan nikah dan kekeluargaan menurut aturan Allah.

Di zaman ini banyak keluarga-keluarga Kristen yang hidup menyimpang dari etika surgawi, sehingga menimbulkan banyak masalah. Tanpa etika surgawi keluarga akan kacau, tidak memiliki tatanan, tanpa hirarki dan akibatnya suasana akan menjadi panas.

Ingatlah pada nas berikut Hai isteri tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri, sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. ( Efesus 5; 22-24 )

Dalam hidup nikah surgawi, Allah telah meresmikan dan menetapkan suatu hirarki supaya tercipta ketertiban. Keluarga adalah suatu cermin kecil dari suatu pemerintahan besar. Oleh
karenanya, keluarga yang hidup dalam etika dan tahbisan yang benar menurut pola surgawi adalah cermin dari Kerajaan Allah.

Seperti tertulis dalam Efesus 5, maka seorang suami bagi istri, dan bapak bagi anak- anak adalah seorang raja dalam suatu kerajaan kecil yang disebut keluarga. Kemudian istri, orang terdekat dari suami adalah permaisuri bagi raja.

Kemudian anggota-anggota keluarga yang lain adalah pejabat-pejabat yang masing-masing memiliki tugas dan hak tersendiri. Tuhan menghendaki supaya ada ciri dan teladan Kerajaan Surga. Allah menghendaki keluarga-keluarga Kristen menjadi miniatur dari Kerajaan Surga. Keluarga menjadi Surga Kecilyang turun ke bumi seperti doa Tuhan Yesus.

Agar kerajaan keluarga bercirikan Kerajaan Surga maka harus ada hirarki dan etika berkeluarga. Seorang bapak atau suami adalah Sang Raja yang patut untuk dilayani, dihormati. Namun dalam kedudukan ini dia juga memikul tanggung jawab yang berat untuk keselamatan segenap anggota keluarga. Mampu menjadi pelindung dan pengayom bagi keluarga. Inilah posisi sebagai suami menurut Efesus 5; 22-33.

Dalam keluarga ada pula istri yang berkedudukan sebagai permaisuri. Dia juga memiliki hak dan tanggung jawab khusus sebagai seorang permaisuri yang tidak bisa digantikan oleh orang lain.

Etika kurang tepat Oleh karena muslihat Iblis,zaman sekarang banyak keluarga yang hidup tanpa tahbisan atau etika. Hidup berkeluarga tidak menurut hierarki dan etika Alkitab. Akhirnya keluarga rusak dan kacau bagaikan suasananeraka. Ini semua akibat dari posisi- posisi jabatan/tahbisan yang ditentukan Allah dikacaukan dan dilanggar.

Misalnya seorang istri yang mengambil tempatnya suami. Mungkin dalam penglihatan sepintas, keluarga semacam ini berjalan juga. Namun di balik itu sesungguhnya keluarga itu mengalami kegagalan, karena berjalan tidak sebagaimana mestinya.

Salah satu sisi negatif dari penjungkirbalikkan tahbisan ini adalah timbulnya kejahatan-kejahatan. Bila direnungkan ternyata sangat banyak kejahatan yang terjadi karena kesalahan tahbisan.
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Menjaga Kesucian Diri

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan diri. Dan Sungguh rugi orang yang mengotorinya” (Asy-Syams: 9 – 10).

Sangat Sering kita menyaksikan berita korupsi yang tayang di televisi maupun dimuat dalam surat kabar. Mungkin saat ini sudah menjadi rutinitas kita setiap hari. Terutama penikmat berita. Berbagai kejahatan korupsi dikupas dan dibahas diberbagai berita. Dari yang jutaaan hingga puluhan milyar. Dari yang kecil – kecilan hingga bergelar mega korupsi. Silih berganti terjadi setiap hari, hingga kita pun semakin biasa menyaksikannya. Semakin tidak sensitif.

Korupsi tak lain adalah pencurian atau perampokan. Namun terkesan tak bernilai sebuah kejahatan dan lebih bisa “dimaklumi”. Makanya tak heran, kita melihat pencuri dompet atau maling ayam yang tertangkap basah, kelihatan lebih berdosa dan bagaikan pesakitan dibandingkan dengan pengemplang uang rakyat milyaran yang tampil elegan, berdasi, dan lengkap dengan wajah tanpa dosanya (innocent).

Mungkin bagi yang masih sensitif geram menyaksikannya. Tanpa sadar kita bisa mengumpatnya dengan nada prihatin, marah atau geram. Tapi sudahkah kita sensitif dengan berbagai remeh temeh korupsi kecil – kecilan yang mungkin kerap tanpa sadar kita lakukan. Sebuah tindakan yang terkadang kita bingung, apakah ini boleh atau tidak, halal atau haram.

Menggunakan telepon kantor untuk sekedar menelpon keluarga di rumah apakah termasuk korupsi…? Mungkin bukan korupsi, tapi bisa juga korupsi. Setiap orang bekerja, selalu disertai dengan hak dan kewajiban. Apabila dalam kontrak atau surat perjanjian kerja kita tidak tercantum, bahwa menggunakan telepon kantor adalah bagian dari hak atau fasilitas, tentu saja ini sudah mengarah pada korupsi. Atau setidaknya diragukan.

Adalah Umar bin Abdul Azis, yang disebut – sebut sebagai Khulafaur Rasyidin kelima, ketika menjadi khalifah, sangat berhati – hati dalam menggunakan fasilitas negara untuk kepentingannya dan keluarganya. Suatu malam saat sang khalifah sedang mengerjakan tugasnya sebagai pemimpin negara, datang sang anak untuk menanyakan urusan pribadinya. Serta merta sang Khalifah yang sangat wara’ ini, mematikan lampu, dan menggantinya dengan lampu yang lain. Sang anak sangat terkejut, dan dengan penasaran langsung bertanya. “wahai ayah, kenapa engkau matikan lampunya…? Dengan tegas Umar bin Abdul Azis menjawab. “saat ini aku sedang mengurusi urusan pribadi dan keluargaku, dan aku tidak mau memakai fasilitas Negara!”

Begitulah Umar bin Abdul Azis. Dan mungkin sangat sulit kita temukan kembali pemimpin seperti itu. Pemimpin yang senantiasa menjaga kesucian dirinya dengan bersikap hati – hati (wara’). Saat ini kita selalu dijejali pemimpin yang mencari untung untuk kepentingan pribadinya. Pemimpin yang bertabur fasilitas negara yang tanpa ragu juga digunakan untuk kepentingan pribadi dan keluarganya. Bahkan tak sedikit yang dengan sengaja mencari dan menumpuk harta dengan cara memanfaatkan jabatannya. Dari korupsi yang terang – terangan dan kelas kakap dengan nilai milyaran, korupsi samar – samar dengan bahasa halus seperti uang pelicin, uang jalan, atau upeti. Atau mungkin korupsi yang tanpa sadar kita lakukan dengan tenang seperti memakai fasilitas kantor tanpa hak yang jelas dan tegas seperti diungkap di atas.

Saat ini memang jaman yang sangat sulit untuk membedakan antara yang hak dan yang batil. Korupsi bisa bernilai bisnis sampingan atau proyek. Bahkan, para aparat atau oknum pemerintah tidak akan asing dengan bahasa cari obyekan. Jika demikian, benarkah korupsi adalah bagian dari budaya manusia saat ini. Jika memang demikian, sudahkan peradaban kita mundur secara moral diera yang semakin moderen ini. Semoga saja tidak selama kita senantiasa melaksanakan Islam dengan baik dan menjadikan Al-Qur’an dan Hadist sebagai panduan hidup.

Dan kitapun berharap, bukan hanya korupsi besar yang diberantas dengan hasil korupsinya, seperti menangkap pelaku, menghukumnya dan mengambil kembali hasil korupsinya. Kitapun perlu meluruskan kembali dan mengubah paradigma nilai positif korupsi terselubung dengan arti yang sebenarnya. Karena inipun bisa mereduksi budaya buruk menjadi seolah – baik bahkan diterima secara bersama sebagai hal yang biasa – biasa saja. Bahkan diikuti banyak orang dan telah menjadi budaya baru.

Islam sebagai ajaran yang sempurna selalu jelas dan tegas untuk menjelaskan yang hak dan yang batil, yang halal dan yang haram. Bahkan perkara yang syubuhat atau diragukan apakah halal dan haram, Islam mengajarkan tegas, untuk bersikap hati – hati. Karena itu teladan Umar bin Abdul Azis perlu kita renungkan dan menjadi cambuk untuk menjaga dan mensucikan diri. Terutama bagi kita yang memanggul sebuah amanah, baik menjadi pejabat, pegawai atau profesi apapun.

Rasulullah SAW bersabda ‘’Barangsiapa yang menjaga dirinya dari hal-hal yang syubhat, sesungguhnya ia telah berhasil mencari kebersihan bagi agamanya dan nama baiknya sendiri.’’

(HR Bukhari dan Muslim).
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO